Manuver AHY Pertahankan Demokrat

Jackpot hari ini Result Sidney 2020 – 2021.

Merdeka. com – Partai Demokrat kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) digoyang ‘kudeta’. Kongres Istimewa (KLB) Demokrat barisan Jhoni Allen cs yang digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara, memilih Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai kepala umum.

AHY mengaku tidak akan susunan diam menyikapi kudeta Demokrat di balik gelaran KLB Deli Serdang. AHY tahu ada pihak-pihak yang bersekutu dengan kekuasaan. Mereka melaksanakan segala cara dengan membelakangi konstitusi.

Anak Presiden RI keenam ini menegaskan, hal tersebut contoh buruk bagi demokrasi. Menurutnya, masyarakat juga berpendapat perihal kudeta Demokrat sudah muncul jalur.

AHY langsung melakukan manuver untuk mempertahankan Partai Demokrat. Lengah satunya dengan mendatangi Dewan KemenkumHAM, Senin (8/3).

AHY menyebut kunjungannya ke Kemenkumham untuk menyerahkan lima kontainer berisi berkas-berkas dan surat berisi laporan pelanggaran anggaran dasar/anggaran keluarga (AD/ART) yang dilakukan oleh peserta kongres luar pokok di Deli Serdang.

AHY yakin, Kementerian Hukum dan HAM bisa bertindak objektif sesuai data yang ada terhadap perkara KLB Demokrat ini. Bahwa KLB tersebut tidak berlaku dan inkonstitusional.

“Saya memiliki keyakinan Kemenkum HAM memiliki integritas dan juga bisa bertindak objektif menggunakan segala data petunjuk dan fakta yang saya serahkan hari ini bahwa penyelenggaraannya panitianya pesertanya seluruh tidak sah sesuai konstitusi partai kami, ” tegas AHY.

Mahfud MD

©2021 Merdeka. com/Humas Kemenko Polhukam

AHY juga menuju Kantor Kemenkopolhukam di keadaan yang serupa. AHY datang ditemani Sekjen Demokrat Teuku Riefky Harysa dan Kepala BPOKK Demokrat Herman Khaeron.

AHY memaparkan urusan partainya kepada Menteri Pemimpin Politik, Hukum, dan HAM (Menko Polhukam). Dia merebak mengungkapkan soal AD/ART Golongan Demokrat tahun 2020 dan soal kedaulatan partai.

Mahfud sebelumnya telah menanggapi kisruh Demokrat. Tempat menegaskan sikap pemerintah tidak menganggap agenda dan buatan Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara, karena belum dilaporkan secara resmi.

“Jadi ketua umum Demokrat sampai saat ini adalah AHY. Nanti akan muncul persoalan apakah AD-ART dengan jadi dasar disebut KLB di Deli Serdang itu sah atau tidak, itu nanti akan dinilai dengan terbuka, ” ujar Mahfud.

AHY mengiakan bakal memaafkan Moeldoko kalau mengakui kesalahan karena terlibat mengkudeta partainya. Namun, AHY menyatakan kekecewaan terhadap Besar Staf Kepresidenan itu sebab berupaya merebut kedaulatan Demokrat.

“Terhadap KSP Moeldoko, secara pribadi aku tidak ada masalah secara beliau, tetapi jujur dengan membuat saya kecewa, sering tidak suka beliau berperan GPK-PD, tetapi sebagai manusia biasa tentu kita ada kurang dan salahnya. untuk itu, apabila beliau menyadari kekeliruannya, saya pribadi memaafkannya, ” kata AHY di dalam konferensi persnya, Senin (8/3).

Pendiri Demokrat

©Liputan6. com/Yopi Makdori

AHY serupa sempat bertemu dengan kurang pendiri Partai Demokrat sesuai Prof Subur Budhisantoso, Umar Said, Wayan Sugiana, Ifan Pioh, Vera Rumangkang dan Steven Rumangkang.

“Pertemuan ini adalah gagasan kami bersama untuk merespons gaduhnya pemberitaan akibat oknum-oknum yang mengaku-ngaku sebagai pembuat partai dan seolah-olah menghapuskan peran Pak SBY sebagai pendiri dan penggagas Partai Demokrat, ” kata AHY dalam unggahan Instagramnya, Selasa (2/3).

“Juga gerakan beberapa mantan bakal dalam Gerakan Pengambilalihan Kekuasaan-Partai Demokrat (GPK-PD), ” tambahnya.

Dalam dialog sambil makan siang bersama-sama, AHY mendengar langsung sejak para tokoh tersebut bahwa klaim-klaim yang disampaikan oleh oknum-oknum tersebut tidak benar.

“Tercetus tanda Demokrat adalah hasil perbincangan panjang antara Bapak SBY dengan saya di tempat tinggal Bapak SBY, bertempat pada Puri Cikeas pada akhir Agustus 2001. Dan tanda Partai Demokrat diucapkan tepat oleh Bapak SBY, ” kata Ifan Pioh, lupa satu pendiri Partai Demokrat.

“Warnanya selalu dari Pak SBY, ” tambah Steven Rumangkang.

Para tokoh pendiri pun menegaskan mengecam kegiatan GPK-PD apalagi KLB. Mereka mendukung pimpinan dan pengurus sah DPP hasil Kongres V Partai Demokrat, 15 Maret 2020 dalam mengemban amanah ini ke ajaran. Termasuk juga kepengurusan DPD dan DPC saat itu.

JK

©2021 Istimewa

Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) selalu dikunjungi AHY untuk menodong saran terkait kekisruhan kala ini yang dialami partainya, Minggu (14/3) siang. Dalam pertemuan tersebut AHY didampingi Sekjen Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya, Wakil Sekjen Agust Jovan Latuconsina, Pengantara Bendahara Umum Lokot Nasution, dan Deputi Balitbang Kelompok Demokrat Syahrial Nasution.

AHY meminta masukan lantaran JK memiliki ikatan sejarah politik yang erat. Sebab kata dia, JK pernah menjadi Wakil Kepala mendampingi Bapak SBY. Kelompok Demokrat juga kata AHY pernah menjadi mitra penting bagi Partai Golkar zaman dipimpin oleh JK jadi Ketua Umum. Sementara tersebut, JK berpesan bahwa regenerasi di partai politik tersebut penting.

“Kedatangan kami ke sini juga untuk memohon saran & masukan terkait perkembangan semangat ekonomi dan sosial-politik nasional saat ini, ” prawacana AHY di kediaman JK.

JK berpesan bahwa regenerasi di partai politik itu penting. “Partai Demokrat sudah baik di dalam memberi contoh tentang regenerasi di partai politik, ” kata JK.

JK pun mengingatkan untuk tetap memikirkan pemilih tradisional. Terkait permasalahan yang berlaku di tubuh Partai Demokrat akhir-akhir ini, JK berpetaruh agar AHY dan arahan Partai Demokrat bersabar.

Bersih-bersih ‘Paham’ Moeldoko

©2021 Liputan6. com/Ditto Radityo

Bagian Demokrat AHY langsung melayani bersih-bersih pengurus daerah pasca gelaran Kongres Luar Pokok (KLB) kubu Moeldoko pada 5 Maret lalu. Sebanyak kader yang terbukti turut serta dalam KLB di Deli Serdang tersebut tepat dipecat.

4 ketua Ketua DPC Golongan Demokrat di Sulawesi Selatan misalnya. Mereka adalah pemimpin DPC Kabupaten Sidrap, Barru, Pangkep dan Takalar. Seluruhnya sudah dipecat dan posisinya digantikan Plt.

Selanjutnya, tiga ketua DPC Demokrat di Sumsel serta empat kadernya. Mereka terang datang ke acara KLB yang mendaulat Moeldoko sebagai ketua umum partai.

Ketiga ketua DPC itu adalah Ogan Ilir, Addinul Ikhsan Ketua DPC Musi Banyuasin Hairul Ilyasa dan Ketua DPC Demokrat Pagaralam Gio Fernando.

Sementara empat kadet yang turut diberhentikan merupakan pengurus DPC Demokrat Palembang, Penukal Abab Lematang Ilir, Musi Rawas, dan mantan Ketua DPC Demokrat Ogan Komering Ulu Timur.

Berikutnya, ketua DPC Bantul dan Kabupaten Sleman dipecat dari jabatannya. Keduanya dianggap terpapar ‘paham’ Moeldoko karena hadir di Deli Serdang.

Ketua DPD Demokrat DIY, Heri Sebayang mengatakan, pemecatan kepada kedua ketua DPC itu telah dilakukan.

DPD Demokrat Jawa Timur pun tak terbebas sejak paham Moeldoko. Ada sebesar pengurus daerah yang ikut dalam KLB di Deli Serdang tersebut.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, pihaknya menemukan kaum pengurus DPC Demokrat pada Jatim yang terlibat KLB versi Moeldoko itu.

Menurut informasi pengurus yang terpapar KLB Deli Serdang berasal dari DPC Demokrat Ngawi dan DPC Demokrat Sumenep. Mereka terdiri dari unsur pimpinan pada DPC Demokrat Ngawi & Sumenep. Posisi mereka biar sudah diganti dengan pemangku tugas. [ded]