Pemilih Diminta Tetap Gunakan Hak Pilih Meski Calon Tunggal vs Kotak Kosong

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Merdeka. com – Di dalam Pemilihan Serentak 2020, terdapat 25 Daerah dengan pasangan calon sendiri. Ini berarti, masyarakat hanya disuguhi satu pasangan calon saja dalam pemilihan.

Lalu jika masyarakat tidak menyukai paslon tersebut, apakah harus tidak memilih ataupun golput?

Direktur Jenderal (Dirjen) Informasi Komunikasi Publik (IKP) Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Widodo Muktiyo berharap, masyarakat tetap mengikuti di wilayah Pemilihan yang hanya diikuti calon tunggal dengan cara datang ke tempat pemungutan bahana (TPS).

“Masyarakat diimbau untuk tidak kehilangan hak seleksi karena tidak mau datang, hanya lantaran calonnya tunggal, ” perkataan Widodo.

Menurut Widodo, pengalaman dari pemilihan serentak 2015, 2017 dan 2018, membuat umum jadi enggan menggunakan hak seleksi. Hal ini karena tidak tersedia banyak alternatif dalam pemilihan calon tunggal, Padahal meskipun pemilihan cuma diikuti satu pasangan calon (paslon), masyarakat tetap bisa memiliki alternatif untuk memilih di antara calon tunggal atau kotak kosong.

“Kuncinya adalah semakin penuh masyarakat yang mengetahui fungsi tulisan kosong dalam surat suara, maka angka partisipasi di daerah Pemilihan calon tunggal semakin tinggi, ” jelas Widodo.

Pada mekanisme Pemilihan calon tunggal, Pemilih dihadapkan pada dua pilihan. Kalau setuju dengan calon tunggal mampu mencoblos si calon tunggal. Sedangkan kalau tidak setuju atau tak memilih si calon tunggal, maka bisa mencoblos kolom kosong di surat suara.

Dalam Pasal 54C ayat (2) UNDANG-UNDANG Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Pemangku Kota sudah mengatur bahwa Pemilihan dengan satu pasangan calon dilaksanakan dengan menggunakan surat suara dengan memuat dua kolom yang berisi atas satu kolom yang memuat foto pasangan calon dan kepala kolom kosong yang tidak bergambar.

Lalu bagaimana dengan penetapan hasilnya?

Dalam proses pemilihan, pada mana nantinya apabila calon sendiri yang meraih suara terbanyak & menang, maka prosesnya akan berlaku seperti biasa sebagaimana pada biasanya. Apalagi, jika ternyata tidak ada sengketa, pasangan calon tunggal biar dapat segera dilantik sebagai bahan terpilih.

Namun sebaliknya, apabila ternyata perolehan suara tertinggi diraih oleh kotak kosong maka pelaksanaan Pilkada di daerah terpaut harus diulang. Sesuai Pasal 54D ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 bahwa pemilihan bakal diulang pada berikutnya, pada tahun berikutnya atau dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang dimuat dalam sistem perundang-undangan. Dalam hal ini, kalau kolom kosong menang, maka pilkada di daerah tersebut akan diulang dan dilaksanakan pada pemilihan sekaligus berikutnya. Calon tunggal yang tangan bisa ikut mendaftar kembali di dalam pilkada berikutnya.

Daerah yang memiliki calon tunggal, yaitu 3 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kota Gunung Sitoli & Pematang Siantar. Kemudian, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Selanjutnya Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Satu kabupaten di Provinsi

Bengkulu juga memiliki calon tunggal, yakni, Bengkulu Utara. Daerah Jawa Tengah terdapat tujuh kawasan dengan calon tunggal, yakni Boyolali, Grobogan, Kebumen, Kota Semarang, Sragen dan Wonosobo. Provinsi Jawa Timur didata memiliki dua daerah dengan calon tunggal, yakni Ngawi serta Kediri. Kabupaten Badung, Sumbawa Barat, Kota Balikpapan, Kutai Kartanegara, Gowa, Soppeng Mamuju Tengah, Manokwari Daksina, Pegunungan Arfak dan Raja Ampat juga didata memiliki calon sendiri. [hrs]