Sejarah Artidjo Alkostar Haram Menodong Rumah Dinas Saat Oleh karena itu Hakim Agung

Bonus harian di Keluaran SDY 2020 – 2021.

Merdeka. com awut-awutan Bekas Hakim Agung Artidjo Alkostar wafat karena penyakit dalaman dan paru-paru yang dideritanya. Tutup usianya Artidjo di Febuari 2021 ini ternyata meninggalkan banyak cerita pasti bagi sebagian orang.

Salah satunya yaitu Ketua Komisi Yudisial 2013-2015 Suparman Marzuki. Artidjo ialah sosok yang terkenal sedang, hal ini terlihat era Suparman bermain ke rumahnya.

“Dia letak di sebuah di kontrakan Kwitang. Tikar aja enggak ada, lalu kita bertandang, duduk di semen tersebut. Mohon maaf ini tikar aja enggak ada. Loh bang mohon maaf, kakak ini Hakim Agung, periode tikar aja enggak ada. Ya saya adanya disini, saya belum dikasih panti dinas dan saya enggak akan minta. Kalau negara merasa saya berhak mendapatkan itu maka kasihkan, beta haram meminta, ” prawacana Suparman dalam secara virtual dalam diskusi yang bertema ‘Obituari Artidjo Alkostar: Meneliti Rekam Jejak, Pemikiran dan Nilai-Nilai Etika Pejabat Publik’, Minggu (7/3).

Tak hanya itu sekadar, ternyata Artidjo selalu terangkat kendaraan umum saat menyelenggarakan aktivitasnya. Karena, memang dirinya belum memiliki mobil wajib sudah menjadi seorang penguasa.

Kemudian, di suatu hari ia membeli sebuah mobil yang harganya pun tidak mencapai ratusan juta. Saat itu, Artidjo membeli mobil yang disebutnya mirip seperti mobil hak aktor luar negeri yaitu Mr. Bean.

“Lalu dia ke kian kemari naik bajaj, akhirnya dia membeli mobil, mobilnya itu kaya mobil Mister Bean, kecil mungil gitu, harganya kurang lebih Rp 70 juta, warnanya istimewa pula, mungkin Bang Artidjo menyukai karena asal daerahnya, warnanya hijau lah, pake supir lagi. Saya mampu tumpangan dari sopir, itu mobil seru amat nih bang. Iya ini uangnya cukup dari MA Rp 75 juta dan saya carikan mobil lah serta dapatnya ini, jadi hamba enggak tambah, ” jelasnya.

“Jadi tempat tidak penting dengan tanda pejabat, enggak penting setara sekali buat dia. Jika berpakaian dia agak asing, baju warna apa, celana warna apa, ya mungkin itu memang pembawaannya, ” sambung Suparman.

Dari hal itulah, menurutnya menjadi pelajaran yang mampu diambil oleh dirinya. Lengah satunya yakni menjaga kehormatan diri menjadi seorang hakim.

“Pelajaran dengan bisa kita ambil adalah menjaga harga dirinya jadi hakim, sehingga saat simpulan hayatnya dia meninggalkan cerita yang sangat positif. & berusaha untuk mengambil bagian yang bisa kita sambar sebagai hal positif, ” ungkapnya.

Tengah itu, Peneliti ICW Kurnia Ramadhan menambahkan, terkait secara Artidjo yang memiliki supir. Ternyata supirnya itu tetap diminta untuk pulang oleh Artidjo usai mengantar dirinya.

“Cerita soal mobil itu disampaikan Tabiat Santoso dalam beritanya, keterangan Pak Artidjo kenapa selalu disuruh pulang, karena khawatir sopirnya ditemui oleh makelar kasus. Dan sopirnya sangat bangga menjadi sopir Pak Artidjo, pernyataan terakhirnya itu pak kalau di MA mau cari hakim dengan adil ya Pak Artidjo, ” tutup Kurnia. [bal]