Wabup Jember: Pencegahan Kerumunan Tempat Ibadah Lebih Memungkinkan sebab Mal dan Pasar

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Merdeka. com – Pemprov Jatim mengeluarkan panduan kepada masyarakat dalam melaksanakan Salat Idulfitri dengan berdasarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Bangsa (PPKM) Skala Mikro. Yaitu untuk zona merah diimbau agar warga Salat Idulfitri di rumah; Zona oranye dibatasi 15 persen dari total kapasitas masjid/musala/lapangan; beserta Zona Kuning dan Muda dibatasi 50 persen dibanding total kapasitas.

Ketentuan itu sudah disosialisasikan ke seluruh kabupaten/kota di Jatim sejak awal pasar ini. Namun reaksi tiba bermunculan di masyarakat dalam media sosial. Yakni mempertanyakan mengapa pemerintah hanya menyekat kegiatan di masjid/musala, namun (terkesan) membebaskan kegiatan dalam mal ataupun pasar.

Menanggapi pertanyaan bangsa itu, Wakil Bupati Jember, Muhammad Balya Firjaun Barlaman angkat bicara.

“Pencegahan kerumunan di wadah ibadah, jauh lebih memungkinkan ketimbang di pusat perbelanjaan. Tetapi kita juga sudah melakukan penegakan protokol kesehatan di pusat perbelanjaan, ” kata Gus Firjaun, nama akrab M. B. Firjaun Barlaman, Rabu (12/5)

Masyarakat diharapkan mampu memahami kondisi saat tersebut, dimana pandemi masih berlangsung. Kerumunan dalam jumlah tumbuh, bukan tidak mungkin akan menyebabkan lonjakan kasus Covid-19.

Dalam tulisan edaran yang sama, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga meminta agar pengamalan Salat Idul Fitri kelak bisa dipersingkat. Yakni khutbah sekitar 10 menit, serta imam salat dianjurkan untuk cukup membaca surat-surat hina.

“Mohon dipahami, ini demi kemaslahatan beriringan, ” ujarnya.

Bagi kelompok masyarakat tertentu, seperti orang lanjut piawai (lansia) serta mereka yang baru sembuh, juga dianjurkan untuk Salat Idulfitri dalam dalam rumah saja. Menurut pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiq Putra (Astra), hukum Islam memungkinkan untuk melaksanakan Salat Id.

“Ya setidaknya warga bisalah, punya piawai pertama kali dalam sebaya hidupnya, menjadi Imam Doa Idulfitri. Meski jemaahnya mungkin cuma dua orang, yakni anggota keluarga sendiri, ” jelasnya.

Untuk warga yang merasa tidak percaya diri menjadi pemimpin atau melaksanakan Salat Id sendiri di dalam rumah, Gus Firjaun menjelaskan, terdapat sejumlah toleransi terkait kebulatan tata caranya.

“Seperti takbir 7 kali di rakaat pertama, tersebut kan sunnah. Kalau tak bisa khutbah Salat Id, juga tidak apa-apa. Langgeng sah. Langsung berdiri, takbir. Yang penting rukun-rukunnya telah dilaksanakan. Sekali lagi, itu hukumnya sunnah, walaupun tak khutbah, tidak apa-apa, ” pungkasnya. [fik]